قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Tampilkan postingan dengan label was. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label was. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Mei 2013

WASIAT MBAH MAIMUN ZUBAIR

Jika matahari terbit dari timur , maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa, serta rendah hati lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928. Beliau adalah putra pertama dari K. Zubair seorang kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari kyai ahmad bin syuaib ulama’ yang kharismatik yang teguh memegang pendirian. Mbah Mun, begitu orang biasa memanggilnya.

Ngalap barokah, itulah yang sering dilakukan seantero Nusantara dari Sabang Sampai merauke. Untuk itu, kami tergugah dan mendorong niat kami untuk nyuwun tausiyah kepada beliau yang diharapkan para santri sekarang dapat mengambil langkah yang terbaik seperti beliau.

Mulai dari ruang lingkup seorang santri yang mana santri menurut beliau adalah sekumpulan orang yang menetap di pesantren salaf. Pesantren tersebut berkewajiban untuk menyampaikan pelajaran-pelajaran yang menurut beliau minimal adalah dari kitab Sullam,Safinah, dan Aqidatul Awwam. Intinya yang berkaitan dengan mu’taqod syari’at.

Mbah mun ngendikan bahwa seorang santri harus dapat memahami kitab dan Al-Qur’an. Yang menjadi ciri khas dari sebuah pesantren adalah kebahasaannya. Yakni harus menguasai bahasa arab. Dari segi pemahaman Al-Qur’an, membaca Al-Qur’an dengan Tajwid yang sesuai dengan makhroj dan sifatnya. Dari segi pemahaman kitab yang dimaksudkan adalah dengan mengikuti jejak pesantren salaf. Dimulai dari kitab turast, yakni kitab karangan-karangan ulama’ terdahulu.