قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Tampilkan postingan dengan label Petuah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petuah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Oktober 2018

Mendidik Anak ala KH Abdullah Salam Kajen

Mendidik Anak ala KH Abdullah Salam Kajen

Anak adalah permata dunia yang tidak ternilai bagi orang tua, agama, dan bangsa. Mendidiknya menjadi permata adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Membiarkannya hanyut sebagai batu atau sampah adalah dosa yang dipertanggungjawabkan dunia-akhirat. 

Mbah Dullah Salam Kajen sukses mendidik anak-anaknya menjadi Sholeh-Sholehah. Berikut metode mendidik anak menurut KH Abdullah Salam atau Mbah Dullah Salam Kajen, Pati, Jawa Tengah.

Penegasan Nabi Muhammad soal Kejujuran


Penegasan Nabi Muhammad soal Kejujuran

Dimensi sosial tidak terlepas dari ibadah yang diamalkan oleh seorang Muslim. Dengan kata lain, keshalehan individual akan menjadi bermakna jika bisa mewujudkan keshalehan sosial. Hal ini terlihat ketika ibadah puasa yang bersifat sangat pribadi ujung-ujungnya harus diakhiri dengan mengeluarkan zakat, yaitu ibadah yang memiliki dimensi sosial.

Sama halnya shalat yang merupakan ibadah individual, tetap diakhiri dengan salam lalu menengok ke kanan dan ke kiri sebagai simbol memperhatikan lingkungan sosial. Hal ini membuktikan bahwa ibadah vertikal harus diamalkan secara horisontal sehingga tercipta kehidupan yang baik.

Sama halnya seperti ibadah yang berangkat dari individu, sikap jujur dan kejujuran harus berangkat dari individu. Jujur ini sudah tentu berdampak pada kehidupan secara luas, karena ke mana pun melangkah, apapun yang terucap, dan bagaimana pun berperilaku, penting bagi manusia menjunjung tinggi kejujuran.

Dalam buku Khutbah-khutbah Imam Besar (2018), Pakar bidang Tafsir Prof KH Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa Nabi Muhammad pernah menegaskan ‘ibda’ bi nafsik (mulailah dari diri sendiri). Dalam Al-Qur’an juga ada penegasan, kafa bi nafsik al-yauma hasiba (cukuplah dirimu sendiri sebagai penghisab, penentu terhadapmu).

Rabu, 15 Agustus 2018

Sembilan Adab Menjadi Orang Kaya Menurut Imam Al-Ghazali

Kekayaan, betapapun kerasnya cara kita mendapatkannya, adalah anugerah Allah. Karena anugerah, ia harus diperlakukan sesuai dengan aturan-aturan Sang Pemberi Anugerah. Orang tak bisa seenaknya berbuat dengan hartanya meskipun ia mengklaim itu hasil jerih payahnya sendiri. Sebab, setiap yang dimiliki manusia terkandung tanggung jawab yang harus dipikul. Sikap etis dalam memiliki kekayaan termasuk dari implementasi tanggung jawab tersebut.



Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali menjelaskan etika menjadi orang kaya dalam salah satu risalahnya berjudul Al-Adabu fid Dîn, persisnya dalam fasal Âdâbul Ghanî (dalam Majmû‘ Rasâil al-Imâm al-Ghazâlî, Kairo: al-Maktabah at-Taufîqiyyah). Imam Al-Ghazali mengulas beberapa poin penting yang harus dilakukan oleh orang berpunya.



Pertama, selalu bersikap tawaduk (luzûmut tawadlu'). Kedua, menghapus sikap sombong (nafyut takabbur). Orang yang memiliki kelebihan, termasuk kelebihan harta benda, diharuskan untuk melestarikan sifat rendah hati, tidak angkuh, terhadap orang lain baik miskin maupun kaya seperti dirinya. Sifat ini bisa muncul jika si kaya menginsafi bahwa kekayaan hanyalah titipan atau sekadar amanat.



Ketiga, senantiasa bersyukur (dawâmusy syukr). Lawan dari syukur adalah kufur alias mengingkari kekayaan sebagai karunia yang sangat berharga. Kufur biasanya dipicu oleh sifat tamak, tak puas dengan apa yang sedang dimiliki. 



Keempat, terus bekerja untuk kebajikan (at-tawâshul ilâ a‘mâlil birr).Di antara modal orang kaya yang tak dimiliki orang miskin adalah kekuatan ekonomi. Karena itu hendaknya kekuatan ini dimanfaatkan untuk kemaslahatan orang lain, bukan dibiarkan menumpuk, bukan pula untuk kegiatan mubazir atau yang menimbulkan mudarat.



Kelima, menunjukkan air muka yang berseri-seri kepada orang fakir dan gemar mengunjunginya (al-basyâsyah bil faqîr wal iqbâl ‘alaihi). Sikap ini adalah bukti bahwa si kaya tak membedakan pergaulan berdasarkan status ekonomi seseorang. 



Keenam, menjawab salam kepada siapa saja (raddus salâm ‘alâ kulli ahadin). Orang kaya juga dituntut untuk membalas sapaan yang datang dari setiap orang, terlepas dari latar belakang keturunan, kekayaan, status sosial, profesi, dan lain-lain. Manusia memang diciptakan setara dan sama-sama mulia, dan demikianlah seharusnya tiap orang saling bersikap.



Ketujuh, menampakkan diri sebagai orang yang berkecukupan (idh-hârul kifâyah). Artinya, orang kaya tak sepatutnya bersikap memelas atau menunjukkan tanda-tanda sebagai orang yang butuh bantuan. Tentu ini berbeda dari sikap hidup sederhana, yang menjadi lawan dari berfoya-foya dan terlalu bermewah-mewahan.



Kedelapan, lembut dalam bertutur dan berperangai ramah (lathâfah al-kalimah wa thîbul muânasah). Artinya, tidak mentang-mentang kaya dan bisa melakukan banyak hal dengan kekuatan ekonominya, orang kaya lantas boleh berbuat apa saja, termasuk berkata kasar dan merendahkan orang lain.



Kesembilan, suka membantu untuk kepentingan-kepentingan yang positif (al-musâ‘adah ‘alal khairât). Contah dari sikap ini adalah bersedekah, membangun fasilitas umum, memberi bantuan modal usaha, menanggung biaya pendidikan orang miskin, dan lain-lain. (Mahbib)



Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/71272/sembilan-adab-menjadi-orang-kaya-menurut-imam-al-ghazali 

Kamis, 08 Mei 2014

ALLAH MENAMBAHKAN NIKMATNYA KEPADA ORANG-ORANG YANG BERSYUKUR

Setiap orang sangat memerlukan Allah dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggunakan tangannya hingga kemampuan berbicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seseorang benar-benar sangat memerlukan apa yang telah diciptakan oleh Allah dan apa yang dikaruniakan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan orang tidak menyadari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah. Mereka menganggap bahwa segala sesuatunya terjadi dengan sendirinya atau mereka menganggap bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mereka sendiri. Anggapan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah. Anehnya, orang-orang yang telah menyatakan rasa terima kasihnya kepada seseorang karena telah memberi sesuatu yang remeh kepadanya, mereka menghabiskan hidupnya dengan mengabaikan nikmat Allah yang tidak terhitung banyaknya di sepanjang hidupnya. Bagaimanapun, nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang sangatlah besar sehingga tak seorang pun yang dapat menghitungnya. Allah menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut :

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. An-Nahl: 18).

Meskipun kenyataannya demikian, kebanyakan manusia tidak mampu mensyukuri kenikmatan yang telah mereka terima. Adapun penyebabnya diceritakan dalam al-Qur'an: Setan, yang berjanji akan menyesatkan manusia dari jalan Allah, berkata bahwa tujuan utamanya adalah untuk menjadikan manusia tidak bersyukur kepada Allah. Pernyataan setan yang mendurhakai Allah ini menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah:

"Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. Allah berfirman, 'Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya'." (Q.S. Al-A'raf: 17-8).

11 Asas Kepemimpinan

1. Taqwa
Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepada-Nya.

2. Ing Ngarsa Sung Tulada
Memberi suri tauladan di hadapan anak buah.

3. Ing Madya Mangun Karsa
Ikut bergiat serta menggugah semangat di tengah-tengah anak buah.

4. Tut Wuri Handayani
Mempengaruhi dan memberi dorongan dari belakang kepada anak buah.

5. Waspada Purba Wisesa
Selalu waspada mengawasi, serta sanggup dan memberi koreksi kepada anak buah.

6. Ambeg Parama Arta
Dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan.

7. Prasaja
Tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan.

Kamis, 10 Oktober 2013

TIPS SUKSES UJIAN NASIONAL

Tingginya angka kegagalan siswa SMA pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dianggap terjadi karena adanya pergeseran nilai di kalangan generasi muda. Bahasa Indonesia kini dianggap sebagai mata pelajaran yang tidak penting dibandingkan bahasa asing. Abdul Chaer, dosen Bahasa Indonesia dari Universitas Negeri Jakarta berpendapat demikian. 

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mayoritas kegagalan siswa SMA pada ujian nasional tahun 2012 ternyata pada Bahasa Indonesia dan Matematika. Mereka pelajar di sekolah-sekolah di wilayah perkotaan, seperti ibu kota provinsi atau ibu kota kabupaten/kota.

Dari total 1.524.704 siswa peserta ujian nasional (UN) jenjang SMA/SMA luar biasa dan madrasah aliyah tahun 2011/2012, sebanyak 7.579 siswa dinyatakan tidak lulus. Untuk SMK, 2.925 siswa tidak lulus dari 1.039.403 siswa peserta UN. Siswa SMA/MA/SMALB yang lulus 1.517.125 orang (99,50 persen) dengan nilai rata-rata tertinggi 9,33. Tahun lalu, siswa yang lulus 99,22 persen. Adapun untuk SMK, siswa yang lulus mencapai 1.036.478 siswa.

Di Bali pun Bahasa Indonesia mata pelajaran jadi masalah, yang sejak kecil telah diajarkan oleh orangtua. Ironisnya, 70 persen siswa yang tidak lulus gara-gara Bahasa Indonesia kebanyakan berasal dari sekolah negeri.

KISI-KISI UJIAN NASIONAL 2013

Kisi-kisi Ujian Nasional untuk jenjang SD/MI tahun 2013 telah disosialisasikan kepada guru dan siswa di wilayah Indonesia dan sekolah Indonesia di Luar Negeri. Kalau menyimak substansi dari kisi-kisi UN 2013 untuk Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah tampaknya tidak (terlalu) berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin atas dasar itulah kenapa Pemerintah berencana memakai kisi-kisi UN 2013 untuk Ujian Nasional selama tiga tahun (2013, 2014, dan tahun 2015). Sebagai bahan masukan tentunya panitia harus mempertimbangkannya juga nantinya perubahan yang dilakukan dalam kurikulum baru yang akan mulai ditetapkan mulai tahun 2013. Materi penting soal Bahasa Indonesia UN SD / MI secara umum dibagi 2 (dua) bagian yakni materi membaca dan materi menulis. Materi membaca mengujikan kompetensi seperti membaca berbagai teks bukan sastra berupa naskah sederhana, laporan, pengumuman, petunjuk pemakaian, ringkasan, makna kata, dan rubrik khusus, serta berbagai karya sastra berupa puisi, dongeng, cerita anak, dan drama anak. Sedangkan materi menulis kompetensinya berkisar soal cara bagaimana mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk pemakaian, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, dan ringkasan dengan menggunakan ejaan dan pilihan kata yang tepat; menulis berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, parafrase, dan pantun. Berikut kami sampaikan penjelasannya :

DESKRIPSI

Materi : Membaca
Kompetensi
Membaca berbagai teks nonsastra berupa teks sederhana, laporan, pengumuman, petunjuk pemakaian, ringkasan, makna kata, dan rubrik khusus, serta berbagai karya sastra berupa puisi, dongeng, cerita anak, dan drama anak.

2 FAKTOR KETIDAKLULUSAN UJIAN NASIONAL

Banyak faktor yang menyebabkan gagalnya ujian nasional (UN) bagi siswa. Disamping faktor akademis seperti kurangnya persiapan dalam belajar menghadapi UN, juga faktor lainnya seperti faktor teknis. Dalam artikel ini kami akan menyampaikan faktor-faktor penyebab siswa tidak lulus UN berkaitan dengan kebijakan standar kelulusan dari Pamerintah, terutama untuk jenjang SMA/MA/SMK dan SMP/MTs berupa batas minimum kelulusan.
Mendikbud menyampaikan bahwa terdapat dua faktor ketidaklulusan siswa dalam Ujian Nasional (UN).

Nilai rata-rata yang di bawah 5,5 (Untuk penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) pada tahun 2013, batas nilai minimum kelulusan bagi para siswa ditargetkan tetap pada angka 5,5.)

Salah satu atau lebih nilai mata pelajaran bernilai kurang dari empat. Dari pemetaan hasil UN, diketahui sebanyak 5301 siswa atau 69,94 persen dari total ketidaklulusan adalah dikarenakan rata-ratanya tidak mencapai 5,5. Sedangkan 30,06 persen atau 2.278 siswa lainnya dikarenakan ada satu atau lebih mata pelajaran yang kurang dari 4.

Senin, 27 Mei 2013

MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

Dalam setiap desah nafas seorang hamba, ada ni’mat yang terus diperbaharui dan wajib disyukuri. Paling tidak kita bisa merasakan, bahwasanya dalam diri kita mengalir ni’mat yang tak pernah putus dikarenakan kewelasasihan ALLAH SWT.
Coba kita renungkan, bagaimana seorang bayi yang terlahir masih dalam keadaan ‘plain’ tanpa ada rasa, tanpa pemahaman sesuatu apapun, kemudian ALLAH menganugerahkan pendengaran, penglihatan dan hati hingga mampu merasakan kebesaran-kebesaran ALLAH dan akhirnya mampu bersyukur atas segala karunia-Nya.

Sebagaimana firman ALLAH :
وَاللَّـهُ أَخْرَ‌جَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ‌ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُ‌ونَ ﴿٧٨﴾
“Dan ALLAH mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur” (QS An Nahl : 78)
Berbahagialah bagi hamba yang mampu mensyukuri ni’mat-Nya, karena adanya taufiq yang telah ALLAH turunkan kepadanya.

RAHASIA SHALAT MAKTUBAH

Shalat adalah ibadah terpenting bagi seorang muslim. Shalat menjadi tolak ukur kesalehan seseorang. Bahkan shalat merupakan amal kunci bagi segala amal lainnya. Meski demikian jarang sekali orang mengerti bahwa masing-masing waktu shalat yang lima itu mengandung hikmah dan memiliki sejarah masing-masing.Shalat Subuh adalah shalat pertama kali yang dilakukan oleh Nabi Adam As. Dua rakaat Subuh dijalankan oleh Nabi Adam di bumi setelah diturunkan dari surga. Waktu itu pertama kalinya Nabi Adam melihat kegelapan. Begitu gelapnya sehingga ia merasakan ketakutan yang amat sangat. Namun kemudian kegelapan itu secara lamban mulai sirna mengusir rasa takut, dan perlahan terbitlah terang. Itulah pergantian waktu malam menuju pagi. Oleh karenanya, dua rakaat Subuh dilaksanakan sebagai rasa syukur atas sirnanya kegelapan pengharapan atas datangnya kecerahan.
Nabi Ibrahim As adalah orang pertama yang melaksanakan shalat Dhuhur. Empat rakaat dhuhur dilaksanakan, ketika Allah menggantikan Ismail yang rencananya disembelih sebagai kurban dengan seekor domba. Ini terjadi tatkala siang, tatkala matahari bergeser sedikit dari titik tengahnya. Empat rekaat itu menunjukkan beberapa perasaan Nabi Ibrahim. Satu raka’at adalah penanda kesyukuran atas digantikannya Ismail. Satu reka’at karena kegembiraan, satu raka’at untuk mencari keridhaan Allah dan satu raka’at lagi sebagai rasa syukur atas domba pemberian Allah swt.

WASIAT MBAH MAIMUN ZUBAIR

Jika matahari terbit dari timur , maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa, serta rendah hati lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928. Beliau adalah putra pertama dari K. Zubair seorang kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari kyai ahmad bin syuaib ulama’ yang kharismatik yang teguh memegang pendirian. Mbah Mun, begitu orang biasa memanggilnya.

Ngalap barokah, itulah yang sering dilakukan seantero Nusantara dari Sabang Sampai merauke. Untuk itu, kami tergugah dan mendorong niat kami untuk nyuwun tausiyah kepada beliau yang diharapkan para santri sekarang dapat mengambil langkah yang terbaik seperti beliau.

Mulai dari ruang lingkup seorang santri yang mana santri menurut beliau adalah sekumpulan orang yang menetap di pesantren salaf. Pesantren tersebut berkewajiban untuk menyampaikan pelajaran-pelajaran yang menurut beliau minimal adalah dari kitab Sullam,Safinah, dan Aqidatul Awwam. Intinya yang berkaitan dengan mu’taqod syari’at.

Mbah mun ngendikan bahwa seorang santri harus dapat memahami kitab dan Al-Qur’an. Yang menjadi ciri khas dari sebuah pesantren adalah kebahasaannya. Yakni harus menguasai bahasa arab. Dari segi pemahaman Al-Qur’an, membaca Al-Qur’an dengan Tajwid yang sesuai dengan makhroj dan sifatnya. Dari segi pemahaman kitab yang dimaksudkan adalah dengan mengikuti jejak pesantren salaf. Dimulai dari kitab turast, yakni kitab karangan-karangan ulama’ terdahulu.

WASIAT MBAH ARWANI

 "AKU WEKAS KARO SLIRAMU: WIWIT MONGSO IKI SLIRAMU SABEN-SABEN DERES SUPOYO TARTIL. MERGO SENEJAN MUNG SETITIK NANGING TARTIL IKU LUWIH UTAMA LAN MANFA'AT TINIMBANG OLIH AKEH NANGING ORA TARTIL".

MULO WIWIT SAIKI DIBIASAAKEN SING TARTIL SENEJAN MUNG OLIH SA'JUZ RONG JUZ SEDINO. PENGENDIKANE SOHABAT 'ABDULLOH BIN 'ABBAS MENGKENE LA AN AQRO-A SUROTAN UROTTILIHA AKHABBU ILAYYA MIN AN AQRO-AL QUR-AANA KULLAHU.

KEJOBO IKU SING WIS KELAKON TUR NYOTO, YEN KULINONE DERES TARTIL IKU SA'MONGSO-MONGSO KEPENGIN DERES RIKAT TEMTU BISO. NANGING SEBALIKE YEN BIASANE DERES RIKAT BAHAYANE IKU YEN DEWEKE DIKON DERES TARTIL TEMTU ORA BISO JALAN. MULO SLIRAMU YEN ATI-ATI YEN DERES.
CUKUP SEMENE WASIATKU. "



"Aku berpesan kepadamu: mulai sekarang setiap kali kamu 'deres' supaya 'tartil'. Karena meskipun dapat sedikit tapi tartil itu lebih utama dan bermanfaat daripada dapat banyak tapi tidak tartil. Makanya mulai dari sekarang dibiasakan yang tartil walau hanya dapat satu atau dua juz sehari.

Kamis, 18 April 2013

CARA BERHENTI MEROKOK



Bagi pecandu rokok mungkin sangat sulit sekali untuk berhenti. Tapi bukan tidak mungkin, seseorang yang kecanduan berat dengan rokok dapat berhenti melalui berbagai cara. Seperti yang kita tahu merokok sangat berbahaya bagi kesehatan tidak hanya bagi pelaku namun juga bagi orang disekitar orang yang merokok. Bahkan dampak yang ditimbulkan dapat lebih buruk lagi. Tidak ada kata terlambat untuk menghentikan kebiasaan buruk merokok. Berikut ini 10 cara atau tips dalam menghentikan kebiasaan merokok.



10. Berilah jarak waktu
Bila anda merasa tidak bisa berhenti merokok secara langsung, teknik ini bisa dicoba. Setelah Anda menghabiskan sebatang rokok tundalah waktu untuk merokok yang kedua dan seturusnya. Mungkin untuk hari pertama anda bisa memberi jarak tiap 30 menit, tapi hari kemudian ditambah lagi jangka waktunya, sampai Anda benar-benar merasa nyaman untuk tidak merokok dalam waktu yang lama. Memang jalan terbaik untuk berhenti merokok adalah berhenti total, tapi hampir sebagian besar perokok akan gagal karena berbagai faktor.

Rabu, 19 Desember 2012

BERKATA BAIK ATAU DIAM

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
[رواه البخاري ومسلم]

Terjemah hadits :
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya” 
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Pelajaran Yang Dapat Kita Petik :
  1. Iman terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.
  2. Islam menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dikalangan individu masyarakat muslim.

Hikmah Zakat, Infak, dan Sedekah

Banyak hikmah yang diperoleh dari zakat, infak dan sedekah. Hikmat zakat diantaranya:
  1. Untuk membersihkan jiwa bagi pelakunya (muzzaki). Karena karakter manusia itu adalah kikir, maka dengan zakat diupayakan sifat tidak terpuji itu akan hilang.
  2. Untuk membersihka harta.

Karena dalam Islam, setiap harta yang diperoleh itu tidak boleh habis dibelanjakan. Allah titipkan sebagian hak orang miskin di dalamnya, seperti yang disampaikan dalam surat At Taubah ayat 103 : "Ambillah zakat dari mereka, guna membersihkan dan mensucikan mereka".
Sedangkan hikmah yang didapatkan di dunia dan akherat kelak, Allah menjanjikan bagi orang yang berzakat bahwa akan dilipatgandakan hartanya dan pahalanya kelak di hari akhir.

Sabtu, 03 November 2012

BERBEKAL UNTUK HIDUP SETELAH MATI


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr 18)

Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa mengingat dan meneliti kembali bekal yang kita persiapkan untuk kehidupan setelah kematian. Faedah besar akan kita dapatkan jika kita melihat sisi kurang perbekalan yang mesti kita siapkan. Karena ini akan memacu kita untuk menutup kekurangan dan memperbanyak amal ketaatan. Tapi jika kita ujub, merasa telah mencapai derajat tertentu dalam keimanan, merasa telah memiliki bsnyak tabungan kebaikan, maka hal ini akan membuat kita terpedaya.

Tiga Cara Mengusir Ujub
Imam Syafi’i memberikan tips kepada kita supaya tidak lekas berbangga dengan amal yang berhasil kita tunaikan, atau dosa yang mampu kita tinggalkan.

MERUTINKAN KEBAIKAN


Uswah dan Imamul muttaqin, Nabiyullah Muhammad SAW memiliki ciri khas yang luar biasa dalam menjalani aktivitas kebaikan. Amal dan ibadahnya disifati, “kaana diimatan” (amalnya rutin) yakni terus menerus tidak terputus-putus namun masih pada batas pertengahan, jauh dari sifat malas, namun tidak pula kelewat batas. Nabi SAW shalat di waktu malam dan juga tidur, beliau shaum dan juga berbuka, akan tetapi beliau kerjakan secara teratur. Sehingga enak dirasakan jiwa dan terbiasa bagi anggota badannya.  Oleh karena itulah amal beliau SAW disifatkan dengan “kaana diimatan” (amalnya rutin), sedangkan makna “diimah” adalah hujan yang teratur, sedang dan tenang, tidak terlalu lebat, tak ada guruh dan tidak ada pula halilintar. Umumnya, hujan yang tidak teratur, atau dengan volume yang berlebih akan mendatangkan kerusakan, baik badai maupun banjir.
Begitu pula dengan karakter manusia. Semangat yang tidak terkendali, stamina yang tidak di jaga, ritme yang tidak teratur dalam menjalani suatu aktivitas, umumnya berdampak kepada keburukan. Meskipun pada asalnya, perbuatan itu berupa aktivitas yang positif.

TIADA KATA GAGAL SEBELUM DATANG AJAL


Setiap orang mungkin pernah merasakan pahitnya kegagalan. Target yang tidak tercapai, perjuangan yang tak membuahkan hasil sesuai keinginan, atau bahkan permohonan yang tak kunjung terkabulkan.
Manusiapun beragam dalam menyikapi kenyataan seperti ini. Ada yang sedih ketika tak lulus sekolah, ada yang depresi lantaran gagal menjadi pejabat, stress lantaran usahanya gulung tikar, dan bahkan ada yang bunuh diri karena gagal menikah dengan orang yang dicintainya. Intinya adalah putus asa dan berat menerima kenyataan yang tidak sesuai harapan.

Tak Ada Istilah Gagal, Kecuali dalam Satu Hal
Sebenarnya, tak ada istilah gagal dalam berusaha, selain kegagalan dalam menyikapi hasil. Inipun, masih ada peluang untuk perbaikan. Hanya ada satu kegagalan yang fatal, yang benar-benar dikatakan gagal, yakni gagal dalam mengisi hidup hingga datangnya ajal.

DERITA ABADI KARENA DENGKI


Gelang di tangan orang yang hendak di rampas tidak dapat, cincin di jari sendiri terlucut hilang. Begitulah peribahasa Melayu yang menggambarkan keadaan orang yang menyimpan rasa dengki. Harapan ingin mendapatkan milik orang tak didapatkan, namun sesuatu yang menjadi milik sendiri dikorbankan. Karena sejatinya pendengki selalu rugi, tak ada keuntungan sedikitpun bagi pendengki. Bahkan, gambaran peribahasa tersebut belum cukup menggambarkan total kerugian orang yang dialami orang yang terjangkiti penyakit dengki.

Derita Para Pendengki
Tak ada yang lebih patut dikasihani melebihi orang yang menderita penyakit dengki. Jika umumnya manusia berpikir dan berbuat untuk sesuatu yang menguntungkan dirinya, atau sekedar menyenangkan hatinya, tidak demikian halnya dengan pendengki.

MEMAKNAI KEGAGALAN


Seperti bayi yang tak diinginkan kelahirannya, tapi menjadi orang paling berguna ketika dewasa, daripada saudara-saudaranya. Tamsil ini barangkali cocok untuk mengibaratkan sebuah kegagalan. Kegagalan, adalah realita yang tak dipungkiri tidak pernah diinginkan kehadirannya, tapi ternyata membawa hikmah yang luar biasa di balik punggungnya. Meski demikian, wajar jika tak seroang pun pernah menginginkan kegagalan menyapa dirinya. Itu karena sang hikmah tak pernah mau menampakkan diri tepat pada saat kegagalan menghampiri.
Gagal. Dalam Kamus Bahasa Indonesia artinya batal atau tidak jadi meraih sesuatu. Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus membatasi makna gagal pada sesuatu yang tidak jadi atau batal teraih setelah adanya usaha maksimal. Sebab, kegagalan yang terjadi sebelum atau tanpa usaha maksimal, sejatinya bukanlah kegagalan tapi konsekuensi logis. Sebuah keniscayaan dari lemahnya usaha dan semangat.