قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Oktober 2018

Mendidik Anak ala KH Abdullah Salam Kajen

Mendidik Anak ala KH Abdullah Salam Kajen

Anak adalah permata dunia yang tidak ternilai bagi orang tua, agama, dan bangsa. Mendidiknya menjadi permata adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Membiarkannya hanyut sebagai batu atau sampah adalah dosa yang dipertanggungjawabkan dunia-akhirat. 

Mbah Dullah Salam Kajen sukses mendidik anak-anaknya menjadi Sholeh-Sholehah. Berikut metode mendidik anak menurut KH Abdullah Salam atau Mbah Dullah Salam Kajen, Pati, Jawa Tengah.

Rabu, 05 September 2018

Mbah Hamid Pasuruan Selalu Datang Haul Syekh Abdul Qodir al-Jailani di Baghdad

Kisah tentang Kiai Hamid ini saya dengar langsung dari Kiai Masyhudi Sanan Kulon Blitar sekitar tahun 2007-2008 sebelum beliau wafat. Santri Kiai Baidlowi Lasem yang merupakan paman Kiai Hamid ini bercerita kepada saya waktu saya sowan ke ndalem beliau.
Awakmu takono abahmu (mertua; KH. Idris Hamid), opo tau Kiai Hamid nang Baghdad
Lha kok ngaten Yai?” jawab saya
Iyo, sebab awal tahun 80-an, aku pas lungo hajindek Masjidil Haram pas sholat Jumat aku sandingan karo Syekh Hassan teko Baghdad. Deweke terus ngajak kenalan, yo mesthi nganggo bosoArab, takon jenengku lan asalku. Yo tak jawab ..
Ana min Jawa Syarqiyah” (saya dari Jawa Timur). Lha kok beliau langsung takon:
Halla ta’lam Syaikh Abdal Hamid min Pasuruan?” (apa kamu mengenal Kiai Hamid dari Pasuruan)” Yo tak jawab
Thob’an, huwas syaikhuna al masyhur li ‘ilmih” (Tentu, beliau adalah guru kami yang terkenal karena kealimannya).
Lajeng Yai, kok saget Syekh Hasan beliau kenal Romo Kiai Hamid?” Tanya saya
Yo akhire deweke tak takoni lan crito karo, yen saben haule Syekh Abdul Qodir al-Jailani ning Baghdad, Kiai Hamid mesthi rawuh lan nginep ning ndaleme syekh Hassan kuwi. Iku saben tahun lho ngendikane..”.

Gus Miek Sudah Jadi Wali Sejak Masih Belia


Membincang ihwal sosok Gus Miek seakan tidak bisa terlepas dari aura kewaliannya yang begitu terpancar, penuh misteri dan nyentrik. Perilakunya yang khariqul ‘adah, cara dakwahnya yang tidak sama dengan ulama’-ulama’ lainnya, membuat jalan dakwah Gus Miek tidak hanya terbatas pada kaum santri, lebih dari itu kalangan selebriti, orang-orang pinggiran dan bahkan para pecinta gemerlap dunia malam pun tidak lepas dari sentuhan dakwahnya.
Gus Miek kecil lahir dari pasangan KH. Djazuli Ustman dan Nyai Rodhiyah tepat pada tanggal 17 Agustus 1940 di desa Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur. KH. Djazuli pun memberi nama Hamim Tohari Djazuli kepada putra ketiganya itu, yang kemudian lebih sering dipanggil Amiek atau Gus Miek lantaran saudara-saudaranya yang juga masih kecil belum fasih memanggil nama Hamim.
Selama mengandung Gus Miek, Nyai Rodhiyah banyak mengalami peristiwa-peristiwa dan mimpi-mimpi yang luar biasa yang belum pernah ia alami semasa mengandung putra-putra sebelumnya. Sebagaimana keyakinan ulama’ terdahulu bahwa mimpi pada saat-saat tertentu memiliki arti penting dan bisa dijadikan isyarat karena merupakan ilham yang dikaruniakan Allah melalui jalan mimpi.

Kamis, 02 Agustus 2018

WASIAT MBAH SALIMI MLANGI

Wafatnya KH Salimi Mlangi menghadirkan duka bagi umat Islam di Daerah Istimewa Yogyakarta. Duka mendalam tentu saja dirasakan keluarga besar Pesantren Assalimiyah Mlangi beserta santri-santrinya. Tak lain karena sosok KH Salimi memberikan dan menancapkan prinsip-prinsip hidup dari ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Salah satu santri KH Salimi, Ihsanuddin mengabarkan bahwa  ada wasiat khusus yang ditegaskan KH Salimi kepada keluarga dan santri. Wasiat itu tertulis dalam bahasa Arab pegon, tradisi khas seorang ulama’ Nusantara. Berikut ini selengkapnya:
Bismillahirrahmanirrahim
Aku arep omong karo anak-anakku kabeh, lanang lan wadon, lan bojomu kabeh, lan santri-santri kabeh lanang lan wadon.
Insya Allah ilmumu diparingi manfaat, sebab aku biyen iyo nglakoni nang duwure qubure Kyai Chudori.
Kapan aku mati, koe kabeh tak kon:
  • Moco qur’an nang duwure kuburanku kanti khatam
  • Lan ugo moco qulhu cukup ping 100.000 kanggo fida’ku
  • Olehe moco qulhu digawe rombongan iyo keno
  • Utowo santri-santri kanti pitung leksan
wasiat kh salimi
Ihsanuddin juga menegaskan bahwa selama hayatnya, Kiai Salimi tak henti-hentinya mengingatkan kepada para santri agar menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Dengan apa menjaganya? Kiai Salimi selalu menegaskan bahwa menjaganya ya dengan ilmu yang bermanfaat.
“Itulah yang selalu disampaikan Kiai Salimi. Makanya beliau tak henti-hentinya memberikan nasehat demikian kepada para santri. Semoga Kiai Salimi husnul khatimah, jebar maqomipun, paringi Maghfiroh Allah, lan Mugi dikempalke mareng tiyang-tiyang sholeh ing alam barzakh ipun… Sugeng tindak, Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji’un.,” tegas Ihsanuddin.
“Mautul ‘alim mautul ‘alam…. Haqqul Yakin Panjenengan tiyang Alim, tiyang Sholeh Mbah Yai (KH. Salimi Mambaul Ulum, Pengasuh PP. As-Salimiyah Mlangi Yogyakarta).” Pungkas Ihsan dengan bahasa jawa halus. (ich)

Sumber : https://bangkitmedia.com/ini-wasiat-kh-salimi-mlangi-kepada-keluarga-dan-para-santri11763-2/ 

Rabu, 12 April 2017

KI AGENG GIRING III


Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan

Berbicara soal Kabupaten Gunungkidul dan DI Yogyakarta tak bisa lepas dari satu tokoh ini, Ki Ageng Giring III. Bahkan sebenarnya dalam skala yang lebih luas, Ki Ageng Giring III memiliki peran besar dalam berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Siapa dia? Ki Ageng Giring III adalah salah seorang keturunan Prabu Brawijaya IV (Bhre Kerta Wijaya) dari Retna Mundri, yang hidup dan menetap pada abad XVI di Desa Sodo, Kecamatan Paliyan. Beliau adalah sesepuh Trah Mataram yang sangat dihormati.
Diceritakan oleh salah satu juru kunci Makam Ki Ageng Giring III, Mas Lurah Surakso Hartoyo, perlu diketahui bahwa gelar Ki Ageng adalah gelar seseorang tokoh pada waktu sudah purna tugas kenegaraan, atau setelah lengser dari jabatannya.
Pada masa aktif menjabat biasanya disebut Ki Gede. Lalu setelah sepuh, jabatan dialih terimakan kepada keturuannya dan sebagai sesepuh, tokoh tersebut ganti menyandang gelar Ki Ageng. Demikian pula asal nama Ki Ageng Giring. Makam Ki Ageng Giring III dikelola oleh Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat karena merupakan pepunden Trah Mataram sebagai penerima turunnya wahyu Keraton Mataram Islam.
Saat berguru, Raden Kertonadi (red-nama kecil Ki Ageng Giring III) bertemu dengan seorang wali besar yang bernama Sunan Kalijaga. Kertonadi seperguruan dengan Raden Bagus Kecung yang kelak bergelar Ki Ageng Pemanahan yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabumi). Keduanya adalah para tokoh politik yang mengembara untuk mengembangkan kekuatan spiritual dan mengajarkan Islam kepada penduduk sekitar.
Perlu diketahui, bahwa setelah hancurnya kerajaan Majapahit, putra-putri Prabu Brawijaya menyebar ke berbagai wilayah di tanah Jawa, bahkan sampai Bali dan Lombok. Di tempatnya masing-masing, mereka berikhtiar lahir batin untuk mendapatkan kembali tahta ayahanda beliau yang telah hilang. Keyakinan bahwa wahyu keraton akan turun kepada putra yang memiliki kecakapan lahir batin ini sangat kuat menancap ke dalam relung jiwa para trah darah biru ini, di antaranya adalah Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan, jelas Mas Lurah Surakso Hartoyo belum lama ini.

Makam Ki Ageng Giring III

Diketahui Ki Ageng Giring menikah dengan Nyi Talang Warih dan dari pernikahan tersebut lahir dua orang anak, yaitu Rara Lembayung dan Ki Ageng Wonokusumo yang nantinya menjadi Ki Ageng Giring IV. Isyarat akan turunnya wahyu Keraton Mataram di perbukitan kidul itu atas petunjuk Sunan Kalijaga, seorang tokoh spiritual yang mampu melihat dengan pandangan lahir batin atas suatu persoalan masyarakat. Oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan dianggap sebagai santri yang mampu menjalankan tirakat dengan kuat untuk menyangga negeri. Untuk mengupas keterkaitan kisah ini, tidak bisa lepas dari perjalanan Ki Ageng Pemanahan mengawal Sultan Hadiwijaya di Keraton Pajang.

Selasa, 11 April 2017

KH. Ahmad Hasyim Muzadi



Dunia internasional yang kerap diwarnai aksi ekstremisme membutuhkan progresvitas pemikiran dan praksis gerakan yang dapat menumbuhkan Islam sebagai agama Rahmat dan perdamaian di atas semua golongan.

Langkah strategis ini dilakukan oleh KH Ahmad Hasyim Muzadi ketika mendirikan lembaga bernama International Conference of Islamic Scholars (ICIS) saat dirinya menjabat sebagai Ketua Umum PBNU dalam rentang periode 1999-2009. Lembaga ini menjadi corong dan wadah bukan hanya bagi para ulama, tetapi juga para akademisi dan cendekiawan untuk bersama-sama mewujudkan perdamaian dunia.

ICIS juga menjadi wadah bagi generasi muda dalam melakukan rembug bersama untuk menyikapi berbagai persoalan bangsa dengan melakukan sejumlah kajian strategis. Komitmen kebangsaan yang mengglobal ini tidak lahir dari langkah instan KH Hasyim Muzadi, melainkan melalui proses panjang ketika dirinya aktif berorganisasi di berbagai jenjang.

Ahmad Hasyim Muzadi lahir di Bangilan, Tuban, Jawa Timur pada 8 Agustus 1944 silam dari pasangan KH Muzadi dan Nyai Hj Rumyati. Ia mempunyai istri bernama Hj Mutamimah yang dari rahimnya lahir 6 orang anak yang terdiri dari 3 putra dan 3 putri. 

Hasyim Muzadi mengawali pendidikannya di Madrasah Diniyah Tuban pada 1950-1953. Ia kemudian meneruskan ke jenjang pendidikan dasar di SD Tuban tahun 1954-1955 dan berlanjut di SMPN 1 Tuban pada 1955-1956.

Ayat Suci di Balik Tongkat Mbah Cholil Bangkalan



Di berbagai literatur yang menjelaskan tentang sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU), KH Cholil Bangkalan Madura (1820-1923) mempunyai peran strategis. Peran tersebut terjadi ketika KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1875-1947) hendak meminta petunjuk kepada Mbah Cholil terkait gagasan para kiai pesantren untuk mendirikan sebuah organisasi ulama.

Kala itu, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) sekitar tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyyah NU yang langsung disampaikan kepada Mbah Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. Namun, Mbah Hasyim tidak lantas menyetujui terlebih dahulu sebelum ia melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Sikap bijaksana dan kehati-hatian Mbah Hasyim dalam menyambut permintaan Mbah Wahab juga dilandasi oleh berbagai hal, di antaranya posisi Mbah Hasyim saat itu lebih dikenal sebagai Bapak Umat Islam Indonesia (Jawa). Mbah Hasyim juga menjadi tempat meminta nasihat bagi para tokoh pergerakan nasional. Sehingga ide untuk mendirikan sebuah organisasi harus dikaji secara mendalam.

Hasil dari istikharah Mbah Hasyim dikisahkan oleh KH Raden As’ad Syamsul Arifin (1897-1990), Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo. Mbah As’ad mengungkapkan, petunjuk hasil dari istikharah Mbah Hasyim justru tidak jatuh ditangannya untuk mengambil keputusan, melainkan diterima oleh KH Cholil Bangkalan, yang juga guru Mbah Hasyim dan Mbah Wahab.

Dari petunjuk tersebut, Mbah As’ad yang ketika itu menjadi santri Mbah Cholil berperan sebagai mediator antara Mbah Cholil dan Mbah Hasyim. Ada dua petunjuk yang harus dilaksanakan oleh Mbah As’ad sebagai penghubung atau wasilah untuk menyampaikan amanah Mbah Cholil kepada Mbah Hasyim. (Choirul Anam, 2010: 72) 

Hal ini merupakan bentuk komitmen dan ta’dzim santri kepada gurunya apalagi terkait persoalan-persoalan penting dan strategis. Ditambah tidak mudahnya bolak-balik dari Bangkalan ke Tebuireng di tengah situasi penjajahan saat itu.

Kamis, 28 Juni 2012

IMAM ASY-SYAFI'I


Nama dan Nasab
Beliau bernama Muhammad dengan kunyah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-’Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib.
Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi’, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi’i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi’, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam.

KH. ALI MAKSUM


Ali bin Maksum bin Ahmad dilahirkan di Lasem Rembang Jawa Tengah pada tanggal 2 Maret 1915. Ayahnya, Maksum adalah pendiri Pondok Pesantren Al-hidayah Lasem Rembang. Nama aslinya hanyalah Ali. Sedangkan Nama Ali Maksum adalah gabungan dari nama ayahnya.
Ali Maksum di kenal sebagai gurunya para intelektual Muslim. Di antara para intelektual Muslim yang pernah berguru kepadanya adalah, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Chalil Bisri, KH. Masdar Farid Mas’udi, KH. Ahmad Musthofa Bisri, dan sebagainya.

KH. Muhammad Ilyas Ruhiat


Kelahiran
KH. Muhammad Ilyas Ruhiat, dilahirkan di Cipasung pada 31 Januari 1934, ayahnya adalah ulama besar di kabupaten tersebut, KH Ruhiat dan ibunya Hj. Aisyah.

Pendidikan
Sebagai ulama yang cukup berpengaruh di kalangan NU, Ilyas hanya mengecap pendidikan formal selama 3 tahun di sekolah rakyat.
Namun Ilyas kecil tidak mau berhenti belajar. Semangat dan kegigihannya mempelajari segala hal, mendorong Ilyas mengambil kursus bahasa. Dua bahasa sekaligus dipelajarinya, Arab dan Inggris. Akhirnya dengan penguasaan bahasa Arab yang mumpuni, Ilyas muda mampu menguasai bidang ilmu Agama Islam.

KH. Mohammad Ahmad Sahal Mahfudh


Kiai Haji Mohammad Ahmad Sahal Mahfudz (lahir di KajenKabupaten PatiJawa Tengah17 Desember 1937; umur 74 tahun) adalah KetuaMajelis Ulama Indonesia (MUI) sejak tahun 2000 hingga saat ini. Sebelumnya selama dua periode menjabat sebagai Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sejak 1999 hingga saat ini.

Beliau sebelumnya selama 10 tahun memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, juga di daulat menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI

Rabu, 20 Juni 2012

IMAM ASY-SYAFI'I


Pemilik Manhaj Fiqih Yang Memadukan Antara Dua Madzhab Pendahulunya
Nama Dan Nasabnya
Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hasyim bin Murrah bin al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu`ay bin Ghalib Abu ‘Abdillah al-Qurasyi asy-Syafi’i al-Makki, keluarga dekat Rasulullah SAW dan putera pamannya.
Al-Muththalib adalah saudara Hasyim yang merupakan ayah dari ‘Abdul Muththalib, kakek Rasulullah SAW. Jadi, Imam asy-Syafi’i berkumpul (bertemu nasabnya) dengan Rasulullah pada ‘Abdi Manaf bin Qushay, kakek Rasulullah yang ketiga.
Sebutan “asy-Syafi’i” dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’ bin as-Saib, seorang shahabat junior yang sempat bertemu dengan Raasulullah SAW ketika masih muda.
Sedangkan as-Saib adalah seorang yang mirip dengan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika suatu hari Nabi SAW berada di sebuah tempat yang bernama Fushthath, datanglah as-Saib bin ‘’Ubaid beserta puteranya, yaitu Syafi’ bin as-Saib, maka Rasulullah SAW memandangnya dan berkata, “Adalah suatu kebahagiaan bila seseorang mirip dengan ayahnya.”

Rabu, 25 April 2012

KH. MARZUQI ROMLI

Giriloyo adalah sebuah dusun di bawah kaki perbukitan Imogiri. Masyarakat sekitar  mengenal dengan nama Pajimatan, suatu bukit yang terkenal di daerah kawasan selatan Yogyakarta karena disanalah raja-raja Kerajaan Mataram Islam dimakamkan.
Daerah Giriloyo ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta (jaraknya hanya sekitar 15 km). Namun karena daerah ini terpencil dan berada di kaki bukit. Sasana khas pedesaan yang sepi dan sunyi namun penuh dengan  kebersamaan dan kedamaian sangat mewarnai daerah tersebut.
Suasana sepi yang mewarnai Giriloyo itu pada pertengahan abad ke-18 M sedikit demi sedikit berubah dengan munculnya kelompok pengajian yang diasuh oleh KH. Romli, seorang ulama yang menjadi Mursyid Tarekat Syathariyah. Seluruh murid-muridnya diberi ijazah tarekat tersebut dengan maksud agar mereka memiliki amalan-amalan harian yang pada akhirnya bisa lebih mendekatkan diri pada Allah SWT.
Keseriusan dan ketekunan dalam pengelolaan pengajian, membuat KH. Romli seakan melupakan

KH. M. MUNAWWIR ( PENJAGA AL-QUR’AN DARI YOGYAKARTA )


KH Muhammad Munawwir lahir di Kauman, Yogyakarta, dari pasangan KH. Abdullah Rosyad dan Khodijah. KH. M. Munawwir beristrikan empat orang, yaitu Ny. R.A. Mursyidah dari Kraton, Ny. Hj. Suistiyah dari Wates, Ny. Salimah dari Wonokromo, dan Ny. Rumiyah dari Jombang. Ketika istri pertamanya meninggal dunia, KH M. Munawwir menikahi Ny. Khodijah dari Kanggotan, Gondowulung.
Sejak kanak-kanak, KH M. Munawwir belajar Al-Qur'an di Bangkalan, sebuah pesantren yang diasuh oleh KH Maksum. Selain belajar Al-Qur'an, ia juga belajar ilmu-ilmu keislaman lainnya dari para kiai, seperti KH Abdullah dari Kanggotan Bantul, KH Kholil dari Bangkalan Madura, KH Sholih dari Darat Semarang, dan KH Abdur Rahman dari Watucongol Muntilan Magelang. Pada tahun 1888 KH. M. Munawwir meneruskan belajar ke Mekkah dan menetap di sana selama 16 tahun. Dari Mekkah KH M. Munawwir melanjutkan belajar ke Medinah. Setelah 21 tahun bermukim di kedua kota suci itu, dan memperoleh ijazah mengajar tahfiz Al-Qur’an, beliau kembali ke Yogyakarta

Selasa, 24 April 2012

PANDANGAN KH. HASYIM ASY’ARI TERHADAP FANATISME BUTA

Menyikapi isu-isu khilafiyyah yang makin meruncing seperti sekarang ini dan gelombang arus pemikiran yang tidak terarah, KH. Hasyim Asy’ari patut menjadi teladan. Ia pendiri NU yang di kenal tegas terhadap pemikiran di luar Islam, dan menyeru pada pentingnya ukhuwah Islamiyyah.
KH. Hasyim Asy’ari adalah ulama’ kenamaan yang lahir dari darah keturunan para ulama’. Ayahnya, Kyai Asy’ari adalah seorang ulama’ di daerah selatan Jombang yang memiliki pesantren. Kakeknya, Kyai Ustman, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, Kyai Sihah, juga ulama’, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.
Selama tujuh tahun ia nyantri di Makkah berguru kepada masyayikh

Jumat, 20 April 2012

KARTINI


Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hinggaHamengkubuwana VI.
Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupatiberisterikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi[2], maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar