قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Tampilkan postingan dengan label pendidik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 April 2017

Tipe Guru Yang Disukai Siswanya

Siswa menghabiskan hampir lima sampai delapan jam di sekolah di bawah pengawasan guru. Apa yang mereka pelajari selama itu adalah bagian penting dari kehidupannya, karena merupakan bekal masa depan. Guru memainkan peran orang tua ketika siswa berada di sekolah. Ada beberapa kualitas yang ideal yang dibutuhkan untuk seorang guru yang baik. Berikut tipe-tipe guru yang akan disukai siswanya.


1. Mengajar harus interaktif

Sangat penting bagi guru untuk berkomunikasi dengan siswa selama belajar sehingga mereka dapat memperhatikan dan dengan demikian tidak melewatkan topik apapun. Kelas harusnya lebih seperti diskusi, sehingga setiap orang dapat berbicara tentang pandangan mereka dan bisa belajar sesuatu yang baru.

2. Ramah

Meskipun sangat penting bagi seorang guru untuk mempertahankan disiplin. Namun, ketika seorang guru ramah dengan siswanya, mereka akan merasa bebas untuk berbagi dengan guru mereka. Ini dapat bermanfaat bagi guru untuk membimbing mereka sebagai teman dan dengan demikian dapat membantu mereka dalam mengambil keputusan yang tepat.

3. Menjadi panduan

Setiap siswa pasti memiliki masalahnya masing-masing, mungkin orang tuanya dapat membantu. Tetapi jika masalah tersebut terkait dengan masalah sekolah, maka ia mendongak ke gurunya untuk dukungan dan bimbingan. Guru harus mampu memberikan bimbingan kepada siswa-siswanya setiap kali mereka membutuhkannya.

4. Memiliki selera humor

Siswa ingin ketika mengajar dibuat menyenangkan, kelas membosankan membuat siswa resah. Hal ini sangat diperlukan bahwa seorang guru harus memiliki rasa humor yang baik, sehingga ia dapat menambahkan unsur menyenangkan dalam belajar. Berbicara tentang pengalaman mereka dan berbagi kenangan lucu, akan memberikan mereka istirahat dan juga menyegarkan mereka.

5. Toleran

Guru yang memiliki sifat toleran biasanya merupakan favorit setiap siswa. Seorang guru tidak harus ekstra ketat atau kasar terhadap siswa karena mereka akan kemudian tidak bisa membuka diri. Ekstra kelonggaran juga tidak disukai karena dapat membuat siswa membangkang. Jadi, guru harus menjaga keseimbangan dan tidak boleh terlalu lunak dan terlalu ketat.

Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2017/04/tipe-tipe-guru-seperti-ini-akan-disukai-siswanya.html#ixzz4dznfUg4q

Selasa, 11 April 2017

Ayat Suci di Balik Tongkat Mbah Cholil Bangkalan



Di berbagai literatur yang menjelaskan tentang sejarah pendirian Nahdlatul Ulama (NU), KH Cholil Bangkalan Madura (1820-1923) mempunyai peran strategis. Peran tersebut terjadi ketika KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1875-1947) hendak meminta petunjuk kepada Mbah Cholil terkait gagasan para kiai pesantren untuk mendirikan sebuah organisasi ulama.

Kala itu, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) sekitar tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyyah NU yang langsung disampaikan kepada Mbah Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. Namun, Mbah Hasyim tidak lantas menyetujui terlebih dahulu sebelum ia melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Sikap bijaksana dan kehati-hatian Mbah Hasyim dalam menyambut permintaan Mbah Wahab juga dilandasi oleh berbagai hal, di antaranya posisi Mbah Hasyim saat itu lebih dikenal sebagai Bapak Umat Islam Indonesia (Jawa). Mbah Hasyim juga menjadi tempat meminta nasihat bagi para tokoh pergerakan nasional. Sehingga ide untuk mendirikan sebuah organisasi harus dikaji secara mendalam.

Hasil dari istikharah Mbah Hasyim dikisahkan oleh KH Raden As’ad Syamsul Arifin (1897-1990), Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo. Mbah As’ad mengungkapkan, petunjuk hasil dari istikharah Mbah Hasyim justru tidak jatuh ditangannya untuk mengambil keputusan, melainkan diterima oleh KH Cholil Bangkalan, yang juga guru Mbah Hasyim dan Mbah Wahab.

Dari petunjuk tersebut, Mbah As’ad yang ketika itu menjadi santri Mbah Cholil berperan sebagai mediator antara Mbah Cholil dan Mbah Hasyim. Ada dua petunjuk yang harus dilaksanakan oleh Mbah As’ad sebagai penghubung atau wasilah untuk menyampaikan amanah Mbah Cholil kepada Mbah Hasyim. (Choirul Anam, 2010: 72) 

Hal ini merupakan bentuk komitmen dan ta’dzim santri kepada gurunya apalagi terkait persoalan-persoalan penting dan strategis. Ditambah tidak mudahnya bolak-balik dari Bangkalan ke Tebuireng di tengah situasi penjajahan saat itu.

Senin, 27 Mei 2013

MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

Dalam setiap desah nafas seorang hamba, ada ni’mat yang terus diperbaharui dan wajib disyukuri. Paling tidak kita bisa merasakan, bahwasanya dalam diri kita mengalir ni’mat yang tak pernah putus dikarenakan kewelasasihan ALLAH SWT.
Coba kita renungkan, bagaimana seorang bayi yang terlahir masih dalam keadaan ‘plain’ tanpa ada rasa, tanpa pemahaman sesuatu apapun, kemudian ALLAH menganugerahkan pendengaran, penglihatan dan hati hingga mampu merasakan kebesaran-kebesaran ALLAH dan akhirnya mampu bersyukur atas segala karunia-Nya.

Sebagaimana firman ALLAH :
وَاللَّـهُ أَخْرَ‌جَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ‌ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُ‌ونَ ﴿٧٨﴾
“Dan ALLAH mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur” (QS An Nahl : 78)
Berbahagialah bagi hamba yang mampu mensyukuri ni’mat-Nya, karena adanya taufiq yang telah ALLAH turunkan kepadanya.